HIKMAH PEMBUKAAN SHALAT DENGAN TAKBIR

HIKMAH PEMBUKAAN SHALAT DENGAN TAKBIR - Hikmah shalat dimulai dengan takbir ( الله اكبر )adalah memulai ibadah shalat dengan menyucikan dan mengagungkan Allah SWT. Serta menyifati-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan (Syarah Muslim Lin Nawawi, juz-4hal. 97)

 

sedangkan menurut yang dipaparkan oleh Qodhi Iyadh dalam kitab Mughnil Muhtaj juz-1 hal. 151. Hikmah shalat dimulai dengan takbir adalah Mushalli menghadirkan sifat keagungan Dzat yang di persiapkan untuk dikhidmah dan berdiri dihadapan-Nya agar Mushalli penuh rasa takut sehingga hatinya hadir dan benar-benar khusuk serta tidak ada kesempatan baginya untuk bersenda gurau.

Keterangan senada termaktub dalam kitab:
  1. Sittina masalah, hal. 97
  2. Qulyubi, juz-1 hal. 142
  3. I’anatut Tholibin juz – 1 hal. 153-130
  4. Hasyiyatus Syarqowi, juz-1 hal. 183

Praktek Berdiri dan Takbiratul Ihram Dalam Shalat (Versi Ust. Abu Sangkan)
Setiap orang bisa melakukan sikap berdiri, tetapi sikap ini akan terasa berbeda jika Anda sedang berdiri di depan panggung untuk pertama kalinya. Tanpa sadar, keringat telah membasahi seluruh tubuh, Leher terasa sulit digerakkan, seolah tidak ada pelumasnya. Perut jadi kaku, bahkan keinginan untuk kencing pun ikut -ikutan menyibukkan menjelang acara naik panggung. Keadaan ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang selalu menghiasi kehidupan kita, baik di kantor, di rumah, di ruang perternuan, di saat mendengarkan kyai memberikan ceramah, bahkan mungkin di saat kita melakukan shalat. 

Hampir 24 jam kita diliputi rasa tegang dan cemas (nervous). Tanpa terasa, kita telah menyiksa tubuh kita sehingga banyak menimbulkan dampak yang tidak baik terhadap organ-organ tubuh. Hidup seperti didera oleh kehidupan yang menyiksa. Sulit untuk memberikan gambaran seperti apa yang dimaksudkan dengan rileks, karena orang ketika diinstruksikan untuk rileks malah "mencari rileks". Sebenarnya yang harus dilakukan bukan "mencari" tetapi "kembali". Barangkali Anda masih ingat, ketika masa kanakkanak sedang bermain di lapangan sambil membawa lari sebuah layang-layang yang dihiasi ekor yang panjang, sambil mengharapkan ada angin kencang yang akan membawanya terbang ke angkasa tinggi sekali. 
Anak anak tidak pernah memeras otak berpikir panjang seperti halnya orang dewasa. Ia hanya terfokus kepada apa yang ia kerjakan. Coba Anda bayangkan kembali saat Anda menarik benang lalu mengulur. 

Lakukan sekarang, seolah-olah ada benang ditangan Anda. Rasakan, bahwa Anda telah mengembalikan keadaan seperti di masa kanak-kanak yang sudah lama tidak kita dapatkan. Guru guru tai chi di Cina menamakannya sung, yaitu sebuah rasa pergerakan yang bukan berasal dari kekuatan otot, melainkan dari energi internal yang menggabungkan pernafasan dan pikiran. Upaya tanpa usaha, sebuah kontradiksi yang dapat dicapai dengan cara menanarnkan sikap rela (pasrah) secara terus menerus, mengalahkan ego dan melepaskan ketegangan yang tak diinginkan. Keadaan ini hanya bisa dilakukan jika kesadaran kita berada di atas kesadaran tubuh.

Sekarang lakukanlah latihan Sebagaimana di bawah ini.
  1. Berdirilah dengan kedua kaki sejajar, terpisah selebar bahu, dengan berat tubuh terbagi rata. 
  2. Posisi rangka tubuh menggantung, seolah ditahan dari puncak kepala, ibarat kain basah yang digantung. 
  3. Kendurkan seluruh persendian, sehingga berat tubuh bertumpu ke bawah dan mengakar melalui kedua kaki. Seperti pohon cemara yang lentur diterpa oleh angin kencang, akarnya berfungsi sebagai tumpuan batang yang mengikuti gerakan kemanapun angin bertiup. 
  4. Biarkan kedua tangan Anda menggantung bebas di kedua sisi tubuh. 
  5. Berdirilah diam. 
  6. Bernafaslah secara alamiah dan biarkan tubuh mengenali hubungannya dengan bumi. 
  7. Biarkan beberapa saat sehingga Anda benar-benar merasakan persendian tubuh kembali pada tempatnya semula. 
Setelah tubuh Anda merasa kendor dan nyaman, pelan-pelan sadarkan diri Anda bahwa kita bukanlah tubuh ini, bukan kepala, bukan hati (perasaan). "Aku" adalah yang selalu sadar berada di atas perasaan, di atas tubuh ini, di atas pikiran, di atas rasa gelisah. "Aku" adalah makhluk mental yang berasal dari tiupan llahi yang suci. Kalau Anda memejamkan mata, Anda akan merasakan dan bisa membedakan mana "Aku" yang sebenarnya. Disitu ada "Aku" yang memperhatikan sensasi badan, seperti lapar, sakit, sensasi yang menyenangkan, juga kesedihan. Anda akan bisa menyadari, bahwa ternyata sebenarnya bukan "Aku" yang lapar, sakit dan sedih, akan tetapi sernua itu adalah sensasi peralatan atau instrumen yang dimiliki oleh sang "Aku". Anda sebenarnya berada di luar atau di atas sernua alat-alat tadi ! Maka dari itu, Anda harus melepaskan diri Anda dari yang bukan hakiki (sebenarnya), agar tidak diombangambingkan oleh peralatan Anda sendiri.

Sadari "Aku" adalah yang menguasai perasaan dan pikiran. jadilah tuan atas diri Anda sendiri. Keluarlah dari tubuh Anda seperti Anda melepaskan baju, lalu tinggalkan dan jangan Anda memikirkan sernuanya itu. Karena peralatan Anda mempunyai naluri yang akan bergerak menurut fungsinya masing-masing. Perhatikan saat Anda tidur, "Aku" Anda meninggalkan tubuh tanpa harus memikirkan bagaimana badanku nanti. Kenyataannya, instrumen tubuh dapat bekerja menurut yang dikehendaki oleh nalurinya sendiri.

Sang Aku Naik Ke Langit (mi’raj)
Aku datang menghadap kepada wujud Zat yang menciptakan langit dan bumi dengan selurus lurusnya. Sebuah perjalanan spiritual yang harus diperhatikan sehingga jiwa kita benar-benar menembus wilayah yang tiada ujung, yang lepas tak terbatas (takbiratul ihram). Inilah kesadaran tertinggi dalam spiritual shalat (mi'rajul mukminin).

Praktekan
  1. Sadarkan bahwa sang Aku adalah ruh yang murni, yang berada di atas tubuh, di atas pikiran, di atas perasaan, di atas rasa sedih.
  2. Lepaskan pelan-pelan ruh Anda (Aku) lalu bergeraklah untuk hadir menuju Zat Yang Maha Tak Terhingga. Diamlah sejenak sehingga Anda merasakan betul pergerakan ruh itu mendesir keluar hingga muncul kesadaran, bahwa ruh Anda adalah sesuatu yang terpisah dengan tubuh dan sensasi instrumennya.
  3. Aku adalah ruh murni yang bersih yang selalu sadar kepada Allah untuk kembali, innalillahi wainnailaihi rajiuun 
  4. Apabila Anda melakukannya dengan tepat, maka ruh itu akan bergerak sendiri tanpa dikendalikan oleh emosi atau pikiran Anda, akan bergerak dengan cepat menuju keadaan yang luas tak terbatas.
  5. Posisi ini merupakan pembebasan (kemerdekaan) bagi jiwa dari dorongan untuk mengikuti nafsu-nafsu yang muncul dari tubuh kita. la akan selalu berada di atas tubuh kita, sehingga ia tidak mudah terseret dan diombang-ambingkan oleh naluri tubuhnya. 
  6. Bertakbirlah dengan : " الله اكبر Allaahu Akbar " lepaskan ruh Anda sehingga terarah kepada yang Maha Besar, Yang Tak Terbatas. 
  7. Pertahankan keadaan yang luas dan bebas. Biarkan sampai Anda tidak merasa goyah lagi. Teguhkan, bahwa sang Aku adalah ruh yang berasal dari tiupan llahi, yang akan menangkap kalam-kalam llahi. Diarnlah agar Anda benar-benar murni, Anda akan merasakan getaran yang menyelimuti halus sekali. Kemudian lakukan sikap mernasrahkan diri. " Sesungguhnya shalatku,, ibadahku, hidupku dan matiku mengikuti kehendak Zat Yang Maha Mengatur Alam Semesta ". (Al An'am. 162) 
  8. Rasakan perubahan keadaan jiwa dan tubuh Anda. Ulangi lagi sampai Anda benar-benar merasakan ruh Anda bergerak bangkit !
  9. Pastikan bahwa sang Aku telah bebas dari kesadaran rendahnya, lalu bacalah surat Al Fatihah sebagai navigator (penunjuk jalan) perjalanan ruhani kita menuju Allah. 
  10. Biarkan ruh meluncur dibawa oleh tuntunan Allah SWT: "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan " (Al Fatihah: 5) Pada saat inilah keadaan roh kita merasa bebas dan luas sekali. Sebuah kenilkmatan yang tiada bandingnya.
  11. Lanjutkanlah dengan membaca surat dalam AI Qur'an yang mudah bagi Anda. Bacalah, seolah Anda membacanya dihadapan Sang Pencipta, sambil mengharap agar diturunkan ketenangan dan rahmat Nya. Disamping itu, bacaan AI Qur'an juga mengandung getaran yang mampu mengubahkan jiwa kita.

Di sadur dari buku "Pelatihan Shalat Khusyuk"

    Bahagia Dengan Saling Berbagi, Bersyukur Dan Menerima Dengan Ikhlas Qodha Dan Qodar-Nya, Sabar Menjalani Proses Dalam Hidup Dan Pasrah Pada Kehendak-Nya

    Artikel Terkait

    Previous
    Next Post »